Manusia dengan egonya
Singkat cerita, setiap pulang dari kampus
banyak banget pemandangan yang bikin gue risau, contoh kecilnya aja orang yang
berjualan dilampu merah, mulai dari yang jualan vitamin c, lap-lap mobil,
kanebo dan lain-lain, sampe pengamen pun. Jujur, setiap melihat mereka gue
risih, dan muncul statement di otak gue buat gak ngasih recehen gue buat
mereka, terkhususnya buat yang ngemis. Entah kenapa gua paling risih dengan
namamya pengemis, enggak itu anak-anak, bapak-bapak, ibu-ibu, yang tua, yang
muda. Gue akan mulai risih ketika mereka nyamperin gue, dan disaat itu akan
muncul perdebatan di otak dan hati gue, antara ngasih atau enggak. Disisi lain
gue kasian, dan disisi lain juga gue risih karena dengan mudahnya mereka
minta-minta, apakah ini dari bentuk usaha mereka?
***
Padahal badanya masih muda, sehat dan
setidaknya masih ada peluang buat nyari uang tanpa cara minta-minta doang. Tapi
ya itu memang hak mereka dalam nyari uang, kita gak ada hak dalam melarang
mereka, toh semuanya itu kembali ke mereka dan mereka juga lah yang akan
menanggung jawabi atas apa yang mereka lakukan. Dan kembali lagi dengan
perdebatan antara hati dan otak, sebenarnya opini ini terinspiris oleh tulisan
blog kak gita, gitasav.com yang
gua baca kemarin-kemarin, di tulisan itu pikiran gua kebuka dan mindset gua
juga perlahan-perlahan mulai berubah, bahwasanya manusia itu kadang lebih milih
nutupin perasaan hatinya dan lebih ngandelin otaknya, and "the point
is" kita sebagai manusia itu memang terlahir dengan egonya masing-masing,
okelah kita punya urusan masing-masing, kita punya hal yang diprioritaskan,
kita punya sesuatu yang harus diperjuangkan, tapi jangan pernah lupa Tuhan
tidak menciptakan kita sendiri, salah satu tugas manusia itu buat jadi khalifah
dimuka bumi ini, dan banyak caranya dalam menjadi khalifah itu, baik dari
memimpin dirinya, keluarga, maupun masyarakat dan masih banyak yang lainnya,
dan secara tidak langsung sesama manusia itu harus saling bertanggung jawab
antar lainnya.
Buat masalah fakta seorang pengemis itu, kita gak tau fakta yang
sebenarnya terjadi, biarlah semua itu jadi urusan mereka, biarlah mereka yang
bertanggung jawab, biarlah mereka yang merasakan, urusan kita sebagai mahluk
sosial ini hanya memberikan selagi kita ada dan mampu, masalah uang nya bakal
berubah menjadi apa yaa itu urusan mereka, toh kita gak tau apa yang sudah
mereka usahakan, mungkin mereka pernah nyari kerja kesana-kemari tapi ditolak,
mungkin mereka sudah berusaha tapi gagal, atau mungkin ini pertama kalinya
mereka mengemis karena sudah kepepet tidak makan berhari-hari, WaAllahu A'lam,
hanya Allah yang Maha Tahu.
Dan satu hal yang harus kita ketahui, banyak sekali diantaranya perbuatan
ibadah di bumi yang luas ini, seperti
Puasa, Sholat, Dzikir dan masih banyak yang lainnya, tapi Allah lebih menyukai
orang-orang yang bersedekah.
***
Thanks for reading:)
Singkat cerita, setiap pulang dari kampus
banyak banget pemandangan yang bikin gue risau, contoh kecilnya aja orang yang
berjualan dilampu merah, mulai dari yang jualan vitamin c, lap-lap mobil,
kanebo dan lain-lain, sampe pengamen pun. Jujur, setiap melihat mereka gue
risih, dan muncul statement di otak gue buat gak ngasih recehen gue buat
mereka, terkhususnya buat yang ngemis. Entah kenapa gua paling risih dengan
namamya pengemis, enggak itu anak-anak, bapak-bapak, ibu-ibu, yang tua, yang
muda. Gue akan mulai risih ketika mereka nyamperin gue, dan disaat itu akan
muncul perdebatan di otak dan hati gue, antara ngasih atau enggak. Disisi lain
gue kasian, dan disisi lain juga gue risih karena dengan mudahnya mereka
minta-minta, apakah ini dari bentuk usaha mereka?
***
Padahal badanya masih muda, sehat dan setidaknya masih ada peluang buat nyari uang tanpa cara minta-minta doang. Tapi ya itu memang hak mereka dalam nyari uang, kita gak ada hak dalam melarang mereka, toh semuanya itu kembali ke mereka dan mereka juga lah yang akan menanggung jawabi atas apa yang mereka lakukan. Dan kembali lagi dengan perdebatan antara hati dan otak, sebenarnya opini ini terinspiris oleh tulisan blog kak gita, gitasav.com yang gua baca kemarin-kemarin, di tulisan itu pikiran gua kebuka dan mindset gua juga perlahan-perlahan mulai berubah, bahwasanya manusia itu kadang lebih milih nutupin perasaan hatinya dan lebih ngandelin otaknya, and "the point is" kita sebagai manusia itu memang terlahir dengan egonya masing-masing, okelah kita punya urusan masing-masing, kita punya hal yang diprioritaskan, kita punya sesuatu yang harus diperjuangkan, tapi jangan pernah lupa Tuhan tidak menciptakan kita sendiri, salah satu tugas manusia itu buat jadi khalifah dimuka bumi ini, dan banyak caranya dalam menjadi khalifah itu, baik dari memimpin dirinya, keluarga, maupun masyarakat dan masih banyak yang lainnya, dan secara tidak langsung sesama manusia itu harus saling bertanggung jawab antar lainnya.
Buat masalah fakta seorang pengemis itu, kita gak tau fakta yang sebenarnya terjadi, biarlah semua itu jadi urusan mereka, biarlah mereka yang bertanggung jawab, biarlah mereka yang merasakan, urusan kita sebagai mahluk sosial ini hanya memberikan selagi kita ada dan mampu, masalah uang nya bakal berubah menjadi apa yaa itu urusan mereka, toh kita gak tau apa yang sudah mereka usahakan, mungkin mereka pernah nyari kerja kesana-kemari tapi ditolak, mungkin mereka sudah berusaha tapi gagal, atau mungkin ini pertama kalinya mereka mengemis karena sudah kepepet tidak makan berhari-hari, WaAllahu A'lam, hanya Allah yang Maha Tahu.
Dan satu hal yang harus kita ketahui, banyak sekali diantaranya perbuatan ibadah di bumi yang luas ini, seperti Puasa, Sholat, Dzikir dan masih banyak yang lainnya, tapi Allah lebih menyukai orang-orang yang bersedekah.
***
Thanks for reading:)
Padahal badanya masih muda, sehat dan setidaknya masih ada peluang buat nyari uang tanpa cara minta-minta doang. Tapi ya itu memang hak mereka dalam nyari uang, kita gak ada hak dalam melarang mereka, toh semuanya itu kembali ke mereka dan mereka juga lah yang akan menanggung jawabi atas apa yang mereka lakukan. Dan kembali lagi dengan perdebatan antara hati dan otak, sebenarnya opini ini terinspiris oleh tulisan blog kak gita, gitasav.com yang gua baca kemarin-kemarin, di tulisan itu pikiran gua kebuka dan mindset gua juga perlahan-perlahan mulai berubah, bahwasanya manusia itu kadang lebih milih nutupin perasaan hatinya dan lebih ngandelin otaknya, and "the point is" kita sebagai manusia itu memang terlahir dengan egonya masing-masing, okelah kita punya urusan masing-masing, kita punya hal yang diprioritaskan, kita punya sesuatu yang harus diperjuangkan, tapi jangan pernah lupa Tuhan tidak menciptakan kita sendiri, salah satu tugas manusia itu buat jadi khalifah dimuka bumi ini, dan banyak caranya dalam menjadi khalifah itu, baik dari memimpin dirinya, keluarga, maupun masyarakat dan masih banyak yang lainnya, dan secara tidak langsung sesama manusia itu harus saling bertanggung jawab antar lainnya.
Buat masalah fakta seorang pengemis itu, kita gak tau fakta yang sebenarnya terjadi, biarlah semua itu jadi urusan mereka, biarlah mereka yang bertanggung jawab, biarlah mereka yang merasakan, urusan kita sebagai mahluk sosial ini hanya memberikan selagi kita ada dan mampu, masalah uang nya bakal berubah menjadi apa yaa itu urusan mereka, toh kita gak tau apa yang sudah mereka usahakan, mungkin mereka pernah nyari kerja kesana-kemari tapi ditolak, mungkin mereka sudah berusaha tapi gagal, atau mungkin ini pertama kalinya mereka mengemis karena sudah kepepet tidak makan berhari-hari, WaAllahu A'lam, hanya Allah yang Maha Tahu.
Dan satu hal yang harus kita ketahui, banyak sekali diantaranya perbuatan ibadah di bumi yang luas ini, seperti Puasa, Sholat, Dzikir dan masih banyak yang lainnya, tapi Allah lebih menyukai orang-orang yang bersedekah.
***
Thanks for reading:)
Komentar
Posting Komentar